Tentang Kamu yang Tidak Bisa Aku Miliki
Tentang Kamu yang Tidak Bisa Aku Miliki
Ada beberapa cerita yang tidak pernah benar-benar dimulai…
tapi entah kenapa, rasanya seperti sudah terlalu dalam.
Seperti kamu.
Aku tidak pernah benar-benar memilikimu.
Tidak ada status. Tidak ada kepastian.
Tapi perasaanku… terlanjur ada.
Dan itu yang paling sulit.
Kita Tidak Pernah "Resmi", Tapi Nyata
Orang lain mungkin tidak akan mengerti.
"Kalau tidak jadian, kenapa harus sakit?"
"Kalau tidak ada hubungan, kenapa harus susah move on?"
Tapi mereka tidak tahu…
Bahwa ada obrolan yang terasa lebih dari sekadar teman.
Ada perhatian kecil yang terasa istimewa.
Ada harapan yang tumbuh tanpa kita sadari.
Dan tiba-tiba… semuanya hilang.
Aku Jatuh Tanpa Rencana
Aku tidak pernah berniat untuk suka.
Awalnya biasa saja.
Cuma ngobrol, bercanda, berbagi cerita.
Tapi lama-lama… aku mulai menunggu pesanmu.
Mulai peduli lebih dari seharusnya.
Mulai berharap, meskipun kamu tidak pernah menjanjikan apa-apa.
Dan di situlah aku salah.
Aku jatuh… sendirian.
Yang Paling Menyakitkan Adalah Tidak Punya Hak
Kalau kamu pergi, aku tidak bisa menahan.
Kalau kamu berubah, aku tidak bisa menuntut.
Karena pada akhirnya… aku bukan siapa-siapa.
Aku tidak punya hak untuk cemburu.
Tidak punya hak untuk marah.
Tidak punya hak untuk bertanya, "kenapa kamu berubah?"
Aku hanya bisa diam… dan menerima.
Kamu Baik, Tapi Tidak Untukku
Aku tidak pernah benar-benar menyalahkanmu.
Kamu tidak pernah menjanjikan apa-apa.
Kamu tidak pernah bilang akan tetap tinggal.
Mungkin aku saja yang terlalu berharap.
Mungkin aku saja yang terlalu dalam menafsirkan semuanya.
Dan itu pelan-pelan aku terima.
Bahwa tidak semua yang terasa indah… ditakdirkan untuk dimiliki.
Belajar Melepaskan, Meskipun Sulit
Move on dari hubungan yang jelas saja sulit.
Apalagi dari sesuatu yang tidak pernah benar-benar ada.
Tidak ada "perpisahan" yang jelas.
Tidak ada penutup cerita.
Hanya jarak yang perlahan muncul…
dan perasaan yang harus aku rapikan sendiri.
Aku Tidak Menyesal Mengenalmu
Kalau aku bisa mengulang waktu…
aku tidak yakin akan menghindar.
Karena bagaimanapun, kamu pernah membuatku bahagia.
Kamu pernah jadi alasan aku tersenyum tanpa alasan.
Kamu pernah jadi bagian dari hari-hariku.
Dan itu nyata.
Untuk Kamu, yang Tidak Pernah Jadi Milikku
Terima kasih.
Untuk semua hal kecil yang mungkin tidak kamu sadari.
Untuk semua momen yang, meskipun singkat, berarti untukku.
Dan sekarang… aku belajar untuk melepaskan.
Bukan karena aku tidak peduli lagi,
tapi karena aku harus melanjutkan hidupku.
Komentar
Posting Komentar